Tangerang, 25 Oktober 2025 18:45 WIB/Ladies Zahiya — Semangat berpikir kritis dan kemandirian ekonomi mengalir kuat di Aula Lama Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang, saat ratusan mahasiswa menghadiri seminar bertajuk “From Campus to Corporation: Membangun Mindset Entrepreneur di Era Digital.” Acara ini tidak hanya menjadi ajang pembekalan kewirausahaan digital, tetapi juga ruang refleksi tentang makna sejati pendidikan tinggi: melahirkan generasi yang mampu menciptakan lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja.

Narasumber utama, Sugeng Lubar Prastowo — Dosen sekaligus Kepala Program Studi Bisnis Digital UNIS — membawakan materi yang terinspirasi dari bukunya “Mindset Entrepreneur 5.0: Menjadi Pengusaha Tangguh dan Adaptif di Era Digital.” Dalam sesi pembuka, Sugeng menegaskan bahwa pendidikan sejati tidak berhenti pada transfer ilmu, tetapi harus menumbuhkan spirit of creation yang berpijak pada kebebasan berpikir dan keberanian berinovasi.
“Kesuksesan tidak dimulai ketika kita lulus, tetapi ketika kita berani berpikir berbeda. Mahasiswa harus punya entrepreneurial mindset — keberanian untuk bertindak, berinovasi, dan menciptakan solusi nyata,” ujarnya di hadapan peserta.
Semangat ini sejalan dengan makna sejarah universitas pertama di dunia, Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, yang menempatkan akar ilmu pengetahuan pada nilai-nilai spiritualitas. Fondasi spiritual tersebut melahirkan free spirit di kalangan ilmuwan: kebebasan berpikir, kemampuan bernalar logis, retorika yang kritis, dan kecakapan berkomunikasi ilmiah. Inilah esensi universitas sejati: ruang bagi ide-ide liar dan gagasan transformasional yang melahirkan sains transformatif, ilmu yang mampu mengubah tatanan sosial menuju masyarakat yang demokratis dan berkeadilan.
Dalam konteks ini, Sugeng menegaskan bahwa sarjana sejati adalah pencipta lapangan kerja, bukan pencari kerja. “Jika lulusan hanya ingin mencari pekerjaan, tempat yang tepat adalah pendidikan vokasi, karena ‘vocare’ berarti panggilan profesi untuk siap kerja. Tapi universitas harus mencetak pemikir bebas, inovator, dan entrepreneur,” tambahnya.
Melalui konsep Mindset Entrepreneur 5.0, Sugeng memperkenalkan kerangka berpikir yang berpadu antara logika, aksi, dan spiritualitas. Prinsip “Done is Better Than Perfect”, model T.O.T.E (Test, Operate, Test, Exit), dan nilai problem solving, value creation menjadi dasar pengembangan sikap adaptif dan kreatif di dunia bisnis digital.
Pandangan Sugeng juga sejalan dengan pemikiran Tan Malaka dalam “Madilog” (Materialisme, Dialektika, Logika), yang menegaskan bahwa kemerdekaan bangsa hanya dapat dicapai jika rakyat mampu berpikir logis, menguasai filsafat, dan mengembangkan sains. “Jika rakyat Indonesia maju dalam pendidikan dan pengetahuan, maka aktivitas ekonomi akan digerakkan oleh generasi kreatif yang menjadi entrepreneur, bukan buruh dari sistem kapitalis,” ungkap Sugeng, mengutip esensi gagasan Tan Malaka.

Acara yang terbuka untuk umum ini berlangsung hangat dan interaktif. Mahasiswa diajak melakukan refleksi diri melalui konsep IKIGAI, menemukan keseimbangan antara passion, misi, profesi, dan nilai ekonomi. Di akhir acara, salah satu peserta beruntung mendapatkan buku “Strategi Pemasaran” karya Sugeng Lubar Prastowo, sebagai simbol penghargaan atas semangat belajar dan diskusi kritis.
Dengan menyatukan nilai spiritual, logika ilmiah, dan semangat kewirausahaan digital, seminar ini menegaskan komitmen Universitas Islam Syekh-Yusuf untuk melahirkan generasi muda berpikir bebas, bertindak logis, dan berjiwa entrepreneur, generasi pencipta perubahan sosial dan ekonomi bangsa di era digital.


**back biome official**
Mitolyn is a carefully developed, plant-based formula created to help support metabolic efficiency and encourage healthy, lasting weight management.